Pusat peradaban di kaki Gunung Slamet. Temukan keasrian alam, kekayaan sejarah, dan kehangatan tradisi kuliner Purwokerto.
Pemantauan seismik dan visual berkala PGA Slamet Gambuhan. Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah aktif.
Napak tilas kelahiran Kota Satria dari kadipaten agraris kuno hingga metamorfosis menjadi kota metropolitan modern di Jawa Tengah bagian barat
Akar sejarah Purwokerto bertaut erat dengan peradaban Kadipaten Pasir Luhur dan Kadipaten Banyumas yang didirikan oleh Raden Joko Kaiman (Adipati Mrapat) pada abad ke-16. Wilayah ini secara bertahap berkembang menjadi pusat pemerintahan yang strategis di lembah subur sebelah selatan Gunung Slamet, dilintasi oleh aliran Sungai Serayu yang menopang kehidupan agraris masyarakat Banyumas tempo dulu.
Pada masa penjajahan Hindia Belanda, posisi Purwokerto dipromosikan sebagai ibukota Karesidenan Banyumas menggantikan Kota Banyumas lama pada awal abad ke-20. Perpindahan ini memicu pembangunan tata ruang modern bergaya Eropa, mulai dari kawasan perkantoran residen, rumah sakit militer, hingga alun-alun kota dengan gereja dan masjid bersejarah di sekitarnya.
Masuknya jaringan rel kereta api Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) dan jalur utama Staatsspoorwegen (SS) menjadikan Purwokerto simpul transportasi utama di Jawa Tengah bagian barat. Keberadaan stasiun besar dan bengkel lokomotif menjadikannya kota persinggahan penting bagi angkutan hasil bumi tembakau, gula, dan kopi menuju pelabuhan Cilacap.
Jantung perbankan, perhotelan berbintang, ritel modern, dan pusat perkantoran Jalan Jenderal Soedirman.
Simpul mobilitas antarprovinsi dengan Stasiun Besar Purwokerto dan sentra getuk goreng Sokaraja.
Kawasan sivitas akademika kampus UNSOED, riset sains, dan gerbang utama wisata lereng Baturraden.
Sentra transit darat dengan Terminal Bus Antarkota Tipe A Bulupitu serta pusat perkantoran terpadu.
ARSIP HINDIA BELANDA c. 1910
Ganti Foto
Dokumentasi tata ruang pusat Karesidenan Banyumas di Purwokerto era Hindia Belanda dengan arsitektur indis kolonial yang elegan dan asri.
ARSIP SDS TRAIN c. 1925
Ganti Foto
Jaringan lokomotif uap Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) yang menjadi urat nadi pengangkutan komoditas hasil bumi Banyumas menuju pelabuhan Cilacap.
Menghubungkan kalender agenda...
Menyinkronkan berita utama...
Konektivitas mobilitas terlengkap dan ternyaman menuju jantung Karesidenan Banyumas dari berbagai penjuru Nusantara
Stasiun Besar Purwokerto (PWT) merupakan stasiun transit utama lintas tengah dan selatan Jawa. Dilintasi kereta eksekutif, bisnis, dan ekonomi dari arah Jakarta (Gambir/Pasar Senen), Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.
Terminal Tipe A Bulupitu melayani rute armada bus eksekutif dari berbagai kota besar di Jabodetabek, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, hingga Bali dengan jadwal keberangkatan setiap jam.
Penerbangan domestik dapat dijangkau via Bandara YIA dengan waktu tempuh berkendara 60 menit ke pusat kota menggunakan kereta api.
Dari jalur Tol Trans Jawa (Pantura), Anda dapat keluar melalui Gerbang Tol Pejagan menuju jalur Prupuk-Bumiayu, atau exit Tol Pemalang/Brebes Timur menuju Purwokerto dengan aspal jalan yang mulus.
Metode Pembayaran: Non-tunai menggunakan kartu uang elektronik (Flazz, Brizzi, TapCash, Jakcard) atau pemindaian QRIS via aplikasi MitraDarat.
Terminal Pasar Pon ↔ Terminal Ajibarang (Via Karanglewas & Cilongok)
Terminal Notog Patikraja ↔ Terminal Baturraden (Via Jl. Jend. Soedirman & UNSOED)
Terminal Bulupitu ↔ Terminal Kebondalem (Looping Pusat Kota & Stasiun)
Terminal Bulupitu ↔ Terminal Kejawar / RSUD Banyumas (Via Kalibagor)